Tuesday, February 11, 2014

Sebuah Renungan Tentang Silaturahmi

"Kata Mamah Dedeh, silaturahmi itu nggak boleh putus, Kum"



Begitu kata sahabat gue. Dulu, sekitar 2 tahun yang lalu. Ketika gue masih awal-awal masuk kuliah, dan saat itu berlibur ke kampung halaman. Jalan-jalan sama dia.

Gue, adalah orang yang selalu memiliki banyak asumsi berlebih dan penakut. Ketika disodorin tawaran untuk bertamu ke rumah orang lain, seperti yang dilakukan oleh Fredy 2 tahun lalu, gue pasti bilang "Ih ngapain, nggak deket kok, ntar canggung". "Ih itu kan teman kamu, bukan teman aku. Nanti kalau aku krik gimana ?". "Ah nggak ah, mending ke bakso aja yuk, kan aku nggak kenal sama dia". "Ih udah lama banget nggak ketemu sama dia, ngapain ke sana ?". "Si anu ? Duh emang kita tahu rumahnya di mana ? Gausah ajalah.."

Dan seterusnya gue berkilah.

Namun karena saat itu gue dan Fredy emang udah kehabisan destinasi jalan-jalan, akhirnya gue mengalah dan membiarkan motor gue dalam setiran Fredy menuju ke rumah Retno, temen Fredy di STM.

Gue yang nggak kenal sama sekali dengan Retno, takut, canggung, nggak tau mau ngomong atau bereaksi gimana. Namun ajaibnya, gue nyatanya disambut baik oleh Retno. Dan gue bisa ngobrol dengan lumayan berhasil, nggak awkward, nggak kaku kayak kanebo belom dikasih aer..

Dari situ gue mulai berani. Berani untuk diajak ke tempat orang yang benar-benar asing bagi gue. Alhasil gue bertamu ke teman-teman STM Fredy, dan meskipun gue nggak kenal, gue tetep nyante dan asyik aja. Bahkan di suatu kesempatan malah gue dan Fredy berhasil makan nasi goreng gratis di tempat sahabat Fredy yang memiliki warung nasi goreng deket terminal. Ya, semua berkat kepasrahan gue untuk dibawa bertemu orang asing.

Dari situ gue berpikir, emang nggak ada salahnya ya. Dan ini nggak begitu buruk ! Mungkin malah bagus !

Selanjutnya, Fredy mengajak gue ke tempat seseorang teman kami, namanya sebut saja Bambang.

"Ih beneran mau ke rumah Bambang ? Kan kita se geng udah nggak suka aja sama si Bambang itu soalnya dia sekarang udah berubah, jadi sombong, dan susah dihubungin, maunya bales kalo ada iming-iming duitnya !"
Fredy bilang "Udahlah Kum nggak apa, kan begitu-begitu dia teman kita juga. Dulu kan kita sahabatan juga sama dia. Nggak apalah nyambung silaturahmi, masa' iya kita dateng trus diusir kayak di sinetron-sinetron itu.."

Dan gue akhirnya luluh. Gue sebenernya bukan sahabat si Bambang, hanya kenal gitu aja dan tau itu orangnya. Dan sebenernya gue nggak benci sama si Bambang, cuman dari sepengamatan gue, Fredy dan kawan-kawannya ini sering mengeluh kenapa si Bambang kayak gitu sekarang. Dan gue mengambil kesimpulan, bahwa Bambang adalah orang yang kurang tepat jika dijadikan destinasi teman untuk disambangi.

Sesampainya di rumah Bambang, sekali lagi,  ajaibnya kami bisa lancar berkomunikasi. Dan.. menyenangkan. Ya mungkin nggak se-menyenangkan jalan-jalan ke Universal Studios Singapore ya, cuman..  It's not that bad !

Dari situ lagi, gue mulai lebih terang lagi. Tentang makna silaturahmi.
Gue mulai setuju dengan apa yang dikatakan Fredy, "Kata Mamah Dedeh, silaturahmi itu nggak boleh putus"
Dan di perjalanan berikutnya, giliran gue yang semangat buat nentuin destinasi sambangan kita selanjutnya. "Ayo ke rumah Yopik ! Lama banget nggak ketemu dia. Dan aku nggak tau rumahnya nih..". Sang supir yang sebelumnya udah pernah tau rumah Yopik, segera mengemudikan motorku ke sana.

Dan jadilah, yang gue dapet adalah silaturahmi dengan sahabat lama, juga informasi tentang rumahnya. Dari awalnya nggak tau jadi tau. Juga tak lupa berbagai gosip hangat dari masing-masing individu yang gue sambangin. Ternyata ada banyak kabar yang berbeda dari mulut tiap orang. Dan gue hanya bisa mendapatkan itu ketika gue bersilaturahmi.

Di sepanjang perjalanan kami, Fredy bilang "Ya yang penting kita udah mencoba untuk memunculkan itikad baik Kum buat bersilaturahmi. Dihubungin dulu orangnya ada nggak di rumah, kalo bales ya kita tanggepin, kalo nggak bales atau dia menolak yaudah hak dia, yang penting niat kita udah baik buat menjaga silaturahmi tetap nyambung."

Dan untuk pertama kalinya mungkin, gue kagum dengan pemikiran sahabatku yang satu ini.

Alhasil, gue sekarang sangat open untuk dikenalkan pada orang yang baru. Gue bisa kenal Anita, Mas Niko, Mas Yudi, Susilo, Retno, Ndut, dan lainnya. Ya, karena gue membuka diri gue untuk bisa bersilaturahmi dengan siapapun. Begitu juga dengan sahabat lama. gue yang mulai renggang dengan Angga, dengan Irsyad, Ujik, Barrun, misalkan, jadi lebih dekat kembali, meski tak se-signifikan naiknya kurs rupiah-dollar, namun cukup untuk membuat hati bahagia karena gue jadi merasa banyak banget teman gue di dunia  ini.

Dan ini berguna. Mindset ini berguna. Untuk menjaga dan mengontrol situasi seperti konflik yang nantinya gue hadapi. Dan 2 hari yang lalu, gue berhasil membuktikannya, menjaga silaturahmi agar tak putus dengan orang yang berkonflik dengan gue.

"Karena tak akan ada yang tahu masa depan itu seperti apa, kecuali Tuhan, oleh karena itu kita saling membutuhkan satu sama lain dalam hidup ini, untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah dan berbagi tawa bahagia, serta berbagi beban hidup.  Silaturahmi membuat hidup kita bebas dari rasa dendam, dan membuat hidup benar-benar indah."

Written by :
Kumara Ranudihardjo
At his boarding room
First post in February
11022014-23:30

No comments:

Post a Comment