Sunday, December 31, 2017

A Boy From Semarang

Cerita ini gue tulis di tempat kerja. Dan memang gue mendapatkan cerita ini dari tempat kerja. Ketika saatnya gue jaga malam sendirian, tidak ada angin tidak ada gerimis, mas (sebut saja Arman) yang biasa jaga warung di sebelah kantor gue menemani gue. Sewaktu gue bertanya ada apa gerangan ia tengah malam begini masih belum pulang dari kantor, padahal jam kerjanya sudah berakhir sore hari tadi, ia menjawab tidak ada kerjaan di kosannya.

Akhirnya gue bercakap-cakap dengannya. Awalnya gue hanya sekedar kenal mas Arman ini. Begitupun dia terhadap gue. Baru gue ketahui bahwa ternyata umurnya baru 18 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkan bagi gue yang 24 tahun ini, yang selama ini menganggap ia lebih tua. Ternyata selama ini dia lah brondongnya, bukan gue.

Anyway, Arman bercerita banyak hal. Dari caranya berbicara, gue bisa menyimpulkan bahwa orang ini cerdas, pintar. Namun kecerdasannya ini masih ada rasa kekanakannya. Entah kenapa gue merasa begitu. Karena istilah-istilah yang ia lontarkan sangat intelek, namun caranya menyampaikan idea-nya terkesan seperti anak sekolah yang baru mendapatkan wawasan luas dari google. Well, sorry for being rude, tapi jujur gue merasa seperti itu. Dan karena gue tahu umurnya masih belia, gue memakluminya dan yakin ia masih memiliki banyak ruang untuk berkembang.

Gue yakin ruang berkembangnya  masih sangat luas, namun dalam perbincangan kami itu, ia memamerkan pengalamannya yang sangat banyak. Pengalaman ini bukan dalam hal prestasi menakjubkan, namun dalam nuansa memprihatinkan. Ia dulunya seorang Office Boy di Semarang, yang kemudian di sana ia dijadikan seorang Team Leader oleh atasannya. Itu bukti bahwa ia memiliki potensi. Remaja yang ditunjuk menjadi team leader sebuah tim tentunya menunjukkan kemampuannya dalam bidang tsb. Selanjutnya ia juga bercerita ia pernah kabur 2 bulan entah dari rumah entah dari sekolah, tapi yah sama aja sih. Dan selama 2 bulan itu ia hidup di jalanan. Otomatis ia juga memiliki pengalaman jalanan yang keras. Ia menjelaskan juga bahwa ia memiliki background pondok pesantren, yang nilai-nilainya ia anggap berguna sekarang ketika ia kini merantau di kota orang sendirian dengan gaji yang di bawah UMR kota Surabaya. Sementara biaya hidup juga tidak hanya sebatas makan minum semata, kehidupan Arman sesungguhnya sangat memprihatinkan (dan gue baru menyadarinya lewat percakapan tak terduga ini).

Selain kelebihan-kelebihannya dalam nuansa memprihatinkan, ada juga kelebihannya dalam sisi positif. Ia bercerita juga ia ahli dalam multimedia, IT, dan hal-hal berkaitan lainnya. Dalam kehidupannya sebagai TL OB di Semarang, ia juga bercerita bahwa setengah dari gajinya sendiri ia "sumbangkan" ke sesama rekan OB nya yang lebih tua. Banyak orang-orang tua yang bekerja sebagai OB memiliki tanggungan anak dan istri yang harus dicukupi kehidupannya dengan gaji yang tentu tidak seberapa. Sisa gaji 50% yang Arman terima lalu harus ia bagi dua lagi untuk diberikan kepada ibunya. Praktis, ia hanya mengantongi 25% dari total gajinya yang hanya ratusan ribu rupiah di jaman modern yang kian mahal ini. Cerita Arman tentang hal ini menggarisbawahi pernyataan tidak langsungnya bahwa ia memiliki sisi peduli pada orang lain, dan rela berkorban.

Oleh karena itulah, dibawanya Arman ke Surabaya ini oleh seorang petinggi kantor gue ini membuatnya mengeluarkan sumpah serapah yang merupakan akibat dari perasaan tertindasnya oleh si petinggi kantor gue ini. Petinggi kantor gue katakanlah namanya Leo, menjanjikan hal-hal yang macam-macam pada Arman ketika awal mengajaknya ke Surabaya. Hal-hal manis seperti diberikan insentif, diberikan bonus, dan seterusnya selalu didengarkan oleh Arman namun tidak ada realita yang menyambutnya. Yang menyambutnya tentu saja gaji 25% dari UMR yang nominalnya ia sebutkan pada gue. Dengan gaji seperti itu, ia juga masih harus dituntut yang macam-macam oleh managernya ini. Gue yang mendengar ceritanya sendiri juga merasa nggak percaya. Nggak percaya bahwa ada orang yang digaji sangat minim. Dan juga nggak percaya bahwa ada orang yang bertahan dengan uang minim di era modern ini. Biaya kos Surabaya saja harusnya paling murah 400rb-500rb per bulannya. Kalau hoki mungkin bisa mendapatkan yang di bawah itu, namun sudah pasti sangat jarang. Untuk mengakalinya bisa jadi ia tinggal dengan temannya, patungan. Namun tetap saja, biaya transportasi, biaya makan sehari-hari, biaya hal kecil seperti alat mandi, dan biaya-biaya wajib lainnya tentu saja sangat banyak, sekali lagi di era modern seperti sekarang. Mampu bertahan dengan uang minim seperti itu rasanya mustahil, bagi nalar gue.

Sepengamatan gue, Arman ini memiliki fisik yang tidak buruk. Tidak tinggi namun tidak pendek. Kurus, namun tidak kurus mengerikan. Kulitnya sawo matang selayaknya orang Indonesia, otaknya juga lumayan encer mengingat ia bisa berbahasa Inggris dengan bagus (terkadang ketika bercakap dengan gue ia mengeluarkan istilah-istilah bahasa Inggris ala anak muda intelek), pembawaannya dalam melayani customer baik, dan jika ditambah poin-poin positif dari ceritanya tadi seperti peduli sesama/religius/pengalaman pahitnya cukup di umur yang belia, seharusnya ia mendapatkan yang lebih daripada yang ia alami sekarang. Itu menurut pemikiran gue.

Namun ada banyak hal juga yang membuat gue heran dengan kondisinya. Dan melihat keanehan itu membuat gue mengingat beberapa kasus orang-orang yang mirip dengannya. Contohnya ketika ia bilang pada gue malam itu, bahwa mimpinya adalah ingin punya motor sport. Hemm, sangat kontras rasanya orang yang baru saja bercerita tentang hardship nya dalam hal finansial namun bilang ingin motor sport yang harganya mahal itu. Memang tidak ada yang menyalahkan mimpi seseorang. Terserah orang mau bermimpi setinggi apapun, sebagus apapun. Namun gue tetap merasa aneh, lantaran gue aja yang tidak mengalami hardship finansial seperti dia saja nggak bermimpi untuk memiliki motor sport atau mobil mewah atau sekedar gadget mahal macam Iphone. Mungkin memang hanya masalah perbedaan preferensi orang saja sih. Mungkin juga memang dasarnya gue nggak terlalu tertarik motor sport aja sih, cuman kalau gue memposisikan diri di posisi dia, gue akan berharap sesuatu yang "lebih dekat" dahulu. Atau bisa dibilang berharap yang lebih masuk akal, lebih urgent, lebih mendesak, lebih penting dulu seperti berharap gajinya naik, atau mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, atau yah semacamnya lah.

Keanehan lainnya adalah, keterkaitan antara dirinya yang religius dengan pola pikirnya yang smart but childish. Sekali lagi ini menurut gue. Kenapa gue bilang smart ? Karena dengan umurnya yang terhitung belia, ia sudah bisa mengucapkan hal-hal intelek layaknya businessman 30 tahunan, mengucapkan istilah-istilah IT yang mungkin bisa diucapkan oleh orang yang mengenyam bangku pendidikan teknologi informasi, atau memang bekerja di bidang tersebut. Kenapa gue bilang childish ? Karena gue sebagai orang yang berumur jauh lebih tua daripadanya, merasa "hal-hal canggih" yang ia ucapkan itu tidak sepantasnya diucapkan secara serius di dunia ini. Bagi gue yang sudah hidup lebih lama daripada dia, gue sudah tahu bahwa "hidup itu memang seperti ini, so santai aja lah. Everything is on the track." jadi ketika ia memprotes dunia dengan "kalimat-kalimat canggihnya", gue tahu bahwa hal itu sia-sia. Sia-sia karena memang dunia ini nggak akan mempedulikan protes itu, dunia akan tetap berjalan dengan hukumnya sendiri. Dan tentu saja melihat ia memprotes dunia membuat gue merasa kasihan pada dirinya yang membuang-buang waktu dan tenaga. Bukan berarti bahwa gue anti-protes, anti-guncangan. Gue sadar bahwa protes dan pemikiran kritis lainnya diperlukan dalam membongkar dunia ini. Namun ada beberapa hal yang gue yakini tidak akan berubah sekeras apapun kita berusaha untuk mendobraknya. Dan beberapa di antaranya menurut gue adalah hal-hal yang diprotes oleh si Arman ini.

Nah, hubungannya dengan religiusitasnya adalah, bahwa gue melihat ada beberapa orang yang religius justru berpola pikir mirip seperti Arman ini. Memprotes dunia, menuntut hal yang manusiawi dan sesuai dengan norma agama, padahal gue yakin bahwa dunia agama dan dunia non-agama itu berbeda cara bekerjanya.

Well, soalnya nggak bisa dipungkiri lagi kita hidup di dalam dua dimensi itu. Dimensi agama dan dimensi duniawi. Kita memiliki hasrat duniawi, be it money, be it power, be it sex, and the list goes on. Namun kita juga memiliki hasrat untuk mensucikan diri lewat dimensi agama itu. Kita memiliki kebutuhan untuk dekat dengan Tuhan, memiliki dorongan untuk berbuat baik, memiliki naluri untuk tidak menyakiti orang lain, dan seterusnya.

Maka dari itu, gue merasa ada ketimpangan yang perlu diperbaiki. Menurut gue perlu diperbaiki, tapi terserah orangnya sendiri, karena sekali lagi preference setiap orang berbeda. Jika ia memiliki kemampuan se-brilliant itu, so gunakanlah kemampuan itu untuk bersaing di kehidupan nyata, jangan mencampuradukkannya dengan sisi religius, yang kemudian tidak bisa memaksimalkan potensi seseorang karena menurut gue, beberapa hal dari sisi religius itu memang tidak untuk digunakan di kehidupan duniawi. Setelah seseorang bersaing di dunia nyata dengan menggunakan seluruh kemampuan dan bakatnya, silahkan untuk kembali dalam dunia religius demi menyeimbangkan diri sendiri.

Mencampuradukkannya hanya membuat segalanya jadi abu-abu.

Mungkin akan ada protes dari orang-orang yang religius, mengatakan bahwa dengan mendekatkan diri pada Tuhan tidak akan menghambat seseorang untuk bisa sukses duniawi. Mungkin akan ditambahkan juga beberapa contoh pebisnis sukses yang sholatnya tak pernah bolong. Atau pendeta yang memiliki usaha sampingan yang sukses. Namun, sekali lagi, seberapa banyak ?

That's my view.
May Arman always get the best.


And don't judge me that I am not religious.

Written by :
Kumara Ranudihardjo
In his office
While there's no queue.

31122017 17.33



























No comments:

Post a Comment